Ternyata, Inilah Penyebab Penyakit Usus Buntu dan Penanganannya

Ternyata, Inilah Penyebab Penyakit Usus Buntu dan Penanganannya

Penyakit usus buntu adalah sebuah peradangan yang terjadi di usus buntu atau dikenal dengan nama apendiks. Apendiks ini adalah organ berbentuk kantong kecil dan tipis, yang panjangnya 5-10 cm yang terhubung ke usus besar. Letaknya berada di perut bagian kanan bawah.  Karena sebab tertentu, seseorang bisa menderita usus buntu dan mengalami gejala rasa nyeri di perut kanan bawah.

Jika dibiarkan begitu saja, infeksi ini berkembang menjadi kondisi yang serius sampai bisa berakibat pembengkakan dan pecahnya usus buntu. Apabila hal ini terjadi, timbullah rasa nyeri hebat dan infeksi yang bisa sampai mengancam nyawa penderitanya. Lalu, sebenarnya apa sebab terjadinya radang apendiks? Inilah sebab, gejala, dan penanganannya.

Penyebab Penyakit Usus Buntu

Apakah Anda pernah mengalami rasa nyeri di bagian perut kanan bawah? Ataukah saat ini sedang mengalaminya? Jika memang benar, waspadalah bahwa bisa jadi itulah gejala Anda mengalami radang apendiks. Kondisi ini memang menjadi pemicu rasa panik mengenai apa sebenarnya penyebab dari peradangan ini.

Penyebab penyakit usus buntu adalah adanya infeksi yang berkembang dengan cepat, sehingga bisa membuat apendiks meradang, bengkak, kemudian bisa bernanah dalam kondisi yang parah. Peradangan tersebut bisa diakibatkan oleh bakteri di dalam usus. Penebalan atau pembengkakan pada jaringan dinding usus buntu akibat infeksi saluran cerna juga bisa memicu peradangan.

Cedera pada perut juga bisa mengarah ke penyebaran infeksi di area apendiks. Hambatan di pintu rongga usus buntu akibat mengonsumsi makanan atau buah yang mengandung biji-biji kecil juga bisa menyebabkan penyumbatan di saluran apendiks dan menyebabkan peradangan.

Gejala Seseorang Mengalami Usus Buntu

Seseorang yang mengalami peradangan pada apendiks pasti akan merasakan gejalanya. Gejala penyakit usus buntu yang paling khas adalah timbulnya rasa nyeri di perut bagian kanan bawah. Meskipun demikian, sangat penting bagi Anda untuk mengetahui juga gejala lain yang ditimbulkan. Ada gejala usus buntu lainnya yang memang bisa dirasakan, di antaranya adalah mual, muntah, dan penurunan nafsu makan. Kondisi ini disebabkan karena peradangan apendiks memicu gangguan pada saluran pencernaan serta sistem saraf, sehingga memungkinkan penderitanya mengalami rasa mual dan muntah.

Gejala peradangan apendiks berikutnya adalah timbulnya gangguan pencernaan lain, seperti diare, sembelit, dan sulit buang angina atau kentut. Berbagai gangguan ini tentu sangat mengganggu kelancaran pencernaan. Perut menjadi kembung dan menyebabkan ketidaknyamanan. Gangguan pencernaan lainnya adalah sering buang air kecil. penyebabnya adalah kandung kemih yang ikut meradang akibat bersinggungan dengan apendiks yang meradang. Dalam beberapa kasus penyakit usus buntu adalah penderitanya merasa sakit saat buang air kecil.

Demam tinggi sampai 37 atau 38 derajat Celcius juga menjadi pertanda penyakit usus buntu. Demam yang tinggi ini disertai dengan peningkatan denyut jantung dan merupakan suatu reaksi alami tubuh saat melawan infeksi yang sedang terjadi di apendiks.

Penanganan Tepat pada Penderita Usus Buntu

Ketika mengalami berbagai gejala di atas, Anda harus segera menyadari dan memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan. Dilansir dari alodokter.com, langkah pertama yang dilakukan pada penderita penyakit usus buntu adalah diagnosis melalui tes darah, tes urin, USG atau CT scan, pemeriksaan panggul, tes kehamilan, dan foto rontgen dada. Serangkaian tes ini dilakukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari gejala yang dirasakan dan tidak menimbulkan kesalahan diagnosis.

Setelah dipastikan positif mengalami peradangan apendiks, dokter melakukan penanganan sesuai kondisi pasien. Langkah pengobatan utama untuk penyakit usus buntu adalah melalui prosedur operasi untuk mengangkat apendiks yang dikenal dengan istilah apendektomi. Akan tetapi, penanganan lain sebelum tindakan final tersebut adalah pemberian obat antibiotik untuk mencegah infeksi, terutama pada kasus apendiks yang belum pecah, tetapi sudah terbentuk abses. Berbeda lagi pada penyakit usus buntu yang ringan, pemberian antibiotik dapat memulihkan kondisi pada sebagian pasien, sehingga operasi tidak perlu lagi dilakukan.

Charlie Gomez

Related Posts